Keunikan Budaya Sunda: Jejak Khas yang Membuatnya Berbeda

Budaya Sunda

Budaya Sunda – Benar sekali, kesadaran dan partisipasi aktif dalam menjaga dan mempromosikan kebudayaan sangat penting untuk melestarikannya.

Budaya Sunda, seperti budaya lainnya, memiliki kekayaan dan keunikan tersendiri yang perlu di aga agar tidak hilang begitu saja. Mengenal dan mencintai budaya Sunda adalah langkah awal untuk membangkitkan rasa kepedulian terhadap warisan budaya tersebut.

Budaya Sunda mencakup berbagai aspek, termasuk kesenian, bahasa, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya yang di anut oleh masyarakat Sunda.

Dengan memahami dan menghargai keberagaman ini, kita dapat turut serta dalam upaya pelestarian budaya Sunda.

Aktivitas seperti mendukung acara seni dan budaya, mempelajari tradisi adat, dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas dapat menjadi cara yang efektif untuk menjaga keberlanjutan budaya Sunda.

Dalam konteks globalisasi dan modernisasi, pelestarian budaya menjadi semakin penting. Tanpa upaya yang sungguh-sungguh, banyak aspek dari budaya lokal dapat tergerus oleh pengaruh luar.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam memahami, merawat, dan mewarisi kebudayaan tradisional mereka.

Melalui pemahaman dan kecintaan terhadap budaya Sunda, kita dapat meresapi keindahan dan kearifan lokal yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi-generasi mendatang.

Dengan demikian, keberlanjutan dan kelestarian budaya Sunda dapat terjamin, dan warisan berharga ini dapat terus dihargai dan di nikmati oleh masyarakat. Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Sunda agar tetap hidup dan berkembang.

Budaya Sunda

Terdapat banyak budaya di Jawa Barat, termasuk seni tari, alat musik, dan berbagai kesenian Sunda lainnya. Berikut adalah 25 elemen budaya Sunda yang sebaiknya Anda kenali.

1. Tari Jaipongan

Tari Jaipongan adalah tarian khas Sunda yang asalnya dari Karawang. Di tahun 1976, H. Suanda menciptakan tari Jaipongan.

Tari Jaipongan juga di kenal dengan tarian kombinasi antara seni pencak silat dengan tari Topeng Banjek, Tari Ketuk Tilu, dan Wayang Golek.

Dalam pertujunkannya, tari Jaipongan di iringi musik gamelan yang terdiri dari, degung, ketuk, gendang, rebab, kecrek, dan gong. Selain itu, tarian ini juga diiringi dengan nyanyian-nyanyian sinden.

Hingga saat ini, tari Jaipongan masih bisa kita lihat pada acara penyambutan tamu dari luar daerah atau luar negeri, pentas seni, dan acara-acara lainnya.

2. Tarian Kuda Renggong

Tarian Kuda Renggong menghadirkan keindahan yang memukau, terutama karena melibatkan kehadiran kuda yang begitu gagah.

Melihat pertunjukan ini, kita dapat merasakan kekuatan dan keteguhan penari yang memerankan tarian ini.

Mereka harus memiliki badan yang kuat dan tegap untuk menyelaraskan gerakan bersama kuda yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pertunjukan ini.

Ketika kuda-kuda yang telah terlatih dengan sangat baik mulai bergerak sesuai irama musik, atmosfer pertunjukan menjadi semakin magis.

Kendang yang memukul dengan ritme yang khas menambah keasyikan pertunjukan ini.

Tidak hanya itu, gerakan lincah kuda yang melompat-lompat dan menggelengkan kepala sesuai dengan irama musik semakin menambah daya tarik dan keunikan dari Tarian Kuda Renggong ini.

Melihatnya, kita tak bisa tidak ikut terbawa dalam keindahan yang di suguhkan oleh harmoni antara manusia, kuda, dan musik yang memadukan kekuatan dan kelembutan dalam sebuah tarian yang memukau.

3. Tari Merak

Tarian Merak, sebuah keindahan yang menawan, merangkul gerakan dan pakaian yang menyiratkan keelokan burung Merak saat memamerkan ekornya yang memikat.

Setiap gerakan dan setiap lipatan kain pada pakaian penari, seakan menciptakan lukisan hidup yang menggambarkan keanggunan dan keelokan burung Merak yang sedang menarik perhatian pasangannya.

Di balik pesona tarian ini, terselip kisah seorang seniman besar, Tjetje Somantri, yang menciptakan keindahan ini.

Secara perlahan tapi pasti, tarian Merak mulai merambah pengakuan di dalam dan luar negeri.

Setiap penampilan tarian ini, dengan tiga orang penari atau lebih, menjadi pementasan yang tak hanya menggugah keindahan visual, tetapi juga membangkitkan kekaguman akan kekayaan budaya Jawa Barat yang begitu memesona.

Sebuah persembahan yang menghubungkan manusia dengan alam, dan menghadirkan keindahan yang tak lekang oleh waktu.

Baca Juga Artikel laninnya di:fainurweb.com

4. Tari Ronggeng Bugis

Kota Cirebon, kota yang menyimpan kekayaan budaya, menjadi lumbung bagi tarian Ronggeng Bugis.

Dalam setiap persembahan, penari tarian Ronggeng Bugis mempesona dengan dandanan dan gerakan yang mencerminkan kelembutan seorang perempuan.

Pementasan ini biasanya melibatkan sejumlah 12 hingga 20 penari, menciptakan harmoni visual yang menakjubkan.

Meskipun menarik dengan kelembutan gaya perempuan, riasan wajah para penari tidak menggambarkan kecantikan yang konvensional; justru, terkadang menyiratkan karakter badut yang memperkaya keunikan pertunjukan.

Keunikan ini menjadi magnet yang mampu menarik perhatian para penonton, bahkan meraih tawa dari mereka.

Dalam jejak sejarahnya, tarian Ronggeng Bugis ternyata memiliki kisah yang menyentuh.

Awalnya, tarian ini digunakan sebagai alat mata-mata untuk Kerajaan Pajajaran, di mana menjadi mata-mata disebut sebagai “telik sandi.”

Nama ini menjadi sejalan dengan keunikan dan rahasia yang terkandung dalam tarian Ronggeng Bugis, yang hingga kini tetap memikat hati penonton dengan keindahan dan cerita yang tersembunyi.

5. Tari Ketuk Tilu

Tari Ketuk Tilu, sebuah warisan budaya Jawa Barat yang di sertai dengan dentingan tiga buah ketuk.

Tarian ini menampilkan tiga gerakan khas, yaitu gitek, geol, dan goyang, hampir semua gerakannya merendahkan diri mendekati tanah.

Pada awalnya, Tari Ketuk Tilu hadir sebagai ungkapan syukur untuk merayakan hasil panen yang melimpah.

Namun, seiring berjalannya waktu, tarian ini juga menjadi bagian tak terpisahkan dari acara pernikahan dan tempat-tempat yang memberikan ruang yang cukup luas.

Dengan lekuk gerak yang mencirikan keakraban dengan tanah, Tari Ketuk Tilu menjadi perwujudan kekayaan budaya yang tetap hidup dan mengikuti alur perubahan zaman.

6. Tari Topeng

Tari Topeng, sebuah warisan budaya Jawa Barat, khususnya di daerah Cirebon, telah menghiasi panggung sejak abad ke-19. Nama “tari topeng” diambil dari penggunaan topeng khas suku Sunda oleh para penari dalam setiap pertunjukkan.

Tari topeng sering menjadi bagian dari berbagai acara, seperti perkawinan, khitanan, pentas seni, dan berbagai acara lainnya.

Fungsinya sebagai tarian penyambutan tamu membuatnya hadir dalam momen-momen istimewa.

Meskipun demikian, terkadang tari topeng juga di pentaskan dalam konteks lain, tidak hanya untuk menyambut para tamu, melainkan sebagai bentuk ekspresi seni yang memperkaya keberagaman budaya.

7. Tari Sampiung

Tari Sampiung, tarian tradisional Jawa Barat, diiringi oleh alat musik trawangan saat pertunjukkan.

Tarian ini tidak hanya di pentaskan dalam upacara adat, tetapi juga dapat di tampilkan dalam perayaan hari-hari besar nasional.

Pertanyaannya, mengapa disebut tari sampiung? Nama ini merujuk pada waditra pengiringnya, yaitu tarawangsa.

Tarawangsa, yang mirip dengan rebab, memberikan nuansa khas pada pertunjukan. Tarian ini juga dikenal dengan nama lain yang menggambarkan suara tarawangsa, yaitu Ngekngek.

8. Tari Sintren 

Tari Sintren dapat dianggap sebagai bentuk seni pertunjukan yang menjadi milik dua provinsi.

Hal ini di sebabkan oleh penyebarannya di sekitar daerah pesisir utara Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah, mencakup wilayah seperti Cirebon, Indramayu, Jatibarang, Brebes, Tegal, Kuningan, Banyumas, hingga Pekalongan.

Keistimewaan Tari Sintren terletak pada unsur mistisnya, di mana si pawang memanggil roh bidadari selama pertunjukan. Namun, justru berkat nuansa kegaiban ini, tarian ini menjadi unik dan berbeda di bandingkan dengan tarian-tarian lainnya.

Untuk melangsungkan Tari Sintren, di perlukan kehadiran pawang dan 6 orang pengiring gendang. Selain itu, penari yang terlibat dalam pertunjukan ini haruslah seorang gadis suci.

Dalam adegan tarian ini, pawang mencoba memanggil roh bidadari. Sebelum panggilan tersebut, penari akan masuk ke dalam kurungan ayam.

Kemudian, jika pawang berhasil memanggil roh bidadari, sang penari, yang sudah kerasukan, mulai menari setelah kurungan ayam di buka.

9. Tari Blantek

Tari Blantek, tarian khas Sunda, menampilkan di alog-dialog lucu sebagai bagian dari pertunjukannya.

Tarian ini tidak hanya di tarikan oleh perempuan, tetapi juga melibatkan partisipasi laki-laki yang turut berkontribusi dalam kesuksesan pertunjukan ini.

Dalam perjalanan waktu, Tari Blantek mengalami perkembangan yang memengaruhi oleh lagu-lagu pop dan dangdut.

Pengaruh tidak hanya terbatas pada lirik lagu, tetapi juga mencakup alat musik yang digunakan dalam tari Blantek, yang kini dipengaruhi oleh alat musik pop dan dangdut.

Awalnya, alat musik tradisional seperti rebana, kendang, rebab, kecrek, dan gong digunakan untuk mengiringi Tari Blantek.

Namun, pada saat ini, alat musik modern seperti gitar, bas, dan keyboard juga telah menjadi bagian integral dari pertunjukan Tari Blantek.

10. Wayang golek

Wayang Golek merupakan pertunjukan seni sandiwara yang melibatkan boneka kayu yang di pergelangkan oleh seorang dalang.

Masing-masing boneka kayu memiliki karakter unik dan suara khas yang di hasilkan oleh dalang.

Tradisionalnya, pertunjukan Wayang Golek berlangsung dari malam hingga menjelang subuh.

Dalang membawakan cerita dengan tema pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, menciptakan nuansa dramatis dan mendalam dalam setiap pertunjukan.

11. Suling 

Alat musik tradisional di berbagai daerah memiliki peran penting, dan perbedaan antara suling Jawa Barat dengan yang berasal dari daerah lain terletak pada bahan dasarnya.

Contohnya, suling Jawa Barat di buat dengan merakit bambu Tamiang. Pilihan bambu ini di pilih karena memiliki diameter kecil dan termasuk jenis bambu yang tipis.

Selain menggunakan bambu khusus, suling Sunda memiliki skala nada yang unik, seperti Pelog degung, Madenda atau sorog, Salendro, Mandalungan.

Suling Sunda bukan hanya di akui sebagai instrumen utama dalam kecapi, melainkan juga memiliki peran penting dalam gamelan degung.

Memainkan suling ini memerlukan keahlian khusus, berbeda dengan suling modern yang umumnya di gunakan oleh anak-anak sekolah.

Keterampilan ini melibatkan pengaturan kecepatan aliran udara yang di tutup oleh mulut dan posisi jari, menjadi elemen kunci dalam memainkan suling Sunda.

 

2 pemikiran pada “Keunikan Budaya Sunda: Jejak Khas yang Membuatnya Berbeda”

Tinggalkan komentar